Artikel, News

Awas Inilah Tips Jitu Hindari Utang saat Balik Mudik Lebaran

Setelah sempat dilarang dua tahun akibat pandemi Covid-19 sejak Maret 2020, tradisi mudik alias pulang kampung kini kembali dibuka. Mudik tahun ini akhirnya menjadi momen yang begitu spesial dan ditunggu-tunggu.

Buktinya, sebagaimana perkiraan Pemerintah, orang mudik Lebaran tahun ini diprediksi mencapai 85 juta orang. Menurut Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, angka ini meningkat lebih dari 40% dibanding mudik pada 2019 yang mencapai 50 juta orang.

Antusiasme orang mudik ini juga tidak lepas dari mulai membaiknya kondisi ekonomi pasca diterpa pandemi. Indikasinya, menurut Direktur Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira, diperkirakan total uang yang beredar selama Lebaran 2022 mencapai Rp 250 triliun atau naik lebih dari 60% dibandingkan tahun lalu. Ini berkat cairnya uang THR secara penuh bagi karyawan swasta.

Hal itu membuat tingkat belanja nasional selama bulan Ramadhan ini ikut meningkat. Dan secara individual tidak bisa dipungkiri bahwa penghasilan dobel baik dari gaji dan THR juga memicu konsumsi. Tidak bisa dipungkiri bahwa tradisi mudik ini sering bikin pengeluaran belanja membengkak dan kantong keuangan terkuras demi merayakan Lebaran bersama keluarga di kampung.

Bahkan, tidak sedikit orang sering mengalami kehabisan uang demi memeriahkan Hari Raya Idul Fitri di kampung. Sering terdengar banyak orang harus mencari pinjaman atau utang saat mau balik dari mudik Lebaran.

Oleh karena itu, buat kalian para Sobat Cerdas sangat diperlukan mengelola keuangan, khususnya mengatur pengeluaran secara bijak. Yuk simak tips menghindari utang saat mudik Lebaran berikut ini!

  1. Buat Anggaran Pengeluaran

Harus diakui bahwa bulan Ramadhan dan mudik Lebaran membuat pengeluaran keuangan jadi meningkat. Pasalnya, memang banyak kebutuhan yang harus dipenuhi untuk merayakan Idul Fitri.

Meski demikian, kita tetap harus mengatur pos-pos pengeluaran. Setidaknya, kita harus membedakan pos pengeluaran yang sifatnya wajib, pengeluaran butuh (kebutuhan) dan pengeluaran ingin (keinginan).

Pos pengeluaran yang sifatnya wajib dan butuh sudah semestinya dipenuhi. Namun, pos pengeluaran yang sifatnya ingin tidak harus selalu dipenuhi. Di sini, kita bisa lebih menghemat pengeluaran.

  1. Tetapkan bujet besaran alokasi pengeluaran

Dari ketiga jenis pos pengeluaran tersebut, kita perlu menetapkan alokasi anggaran untuk masing-masing pos pengeluaran termasuk rincian rencana bentuk pengeluaran. Misalnya, untuk pengeluaran wajib seperti bayar zakat – fitrah, uang “salam tempel” buat orang tua dan keluarga dan lainnya bisa dianggarkan sekitar 10-20 persen dari penghasilan THR.

Untuk pengeluaran yang sifatnya butuh seperti akomodasi transportasi mudik, perlengkapan Lebaran dan lainnya. Karena pengeluaran kebutuhan ini biasanya lebih banyak, maka pos pengeluaran ini bisa dianggarkan sekitar 50% – 60% dari THR.

  1. Hindari Godaan Promo dan Bawa Banyak Uang Tunai

Adapun, pos pengeluaran yang sifatnya keinginan alias bukan kebutuhan ini bisa ditekan dengan alokasi anggaran maksimal 10% dari THR. Biasanya pengeluaran keinginan ini terjadi pada penawaran produk barang belanja online dengan promo yang menarik. Di sini ada ruang untuk penghematan sehingga kita harus berani menahan diri dari godaan promo.

Agar bisa lebih berhemat atau tidak mudah merogoh kocek, akan lebih baik membawa uang tunai seperlunya atau bukan dalam jumlah banyak. Karena ketika ada uang banyak di dompet, kita akan mudah tergoda untuk membeli berbagai macam hal.

  1. Sisihkan untuk Dana Cadangan

Satu hal penting yang jangan sampai dilupakan adalah siapkan juga dana cadangan yang disimpang dalam tabungan. Alokasi anggaran bisa sekitar 10% – 15% dari penghasilan selama bulan Ramadhan.

Dana cadangan ini sangat penting untuk anggaran akomodasi balik pasca Lebaran atau untuk dana darurat. Sehingga, pada saat balik dari mudik kita masih punya uang sehingga tidak perlu cari pinjaman.

  1. Sisihkan untuk Investasi

Kita juga perlu menyisihkan uang penghasilan selama bulan Ramadhan untuk alokasi investasi. Besarannya bisa sekitar 10% – 20% dari penghasilan.

Mengapa uang THR perlu dianggarkan untuk investasi? Ya, karena bulan Ramadhan dan tradisi mudik bakal terus berlangsung di tahun-tahun mendatang. Tentunya, kita pengin bisa merayakan Lebaran semakin nyaman dan sejahtera ke depannya. Sehingga, kita juga perlu memikirkan kebutuhan jangka menengah – panjang.

Investasi untuk kebutuhan jangka menengah – panjang, sangat terjangkau dan fleksibel bagi kalian yang punya gaji dan THR pas-pasan, maka pilihan investasi yang tepat adalah reksa dana.

Nah, kalau kamu pengin mencoba untuk berinvestasi reksa dana yang aman dan memberi cuan lebih optimal, tidak salah pilihannya adalah reksa dana milik PNM Investment Management, manager investasi afiliasi BUMN, terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta telah terbukti memiliki reputasi tinggi.

Caranya gampang kok! Kamu tinggal download aplikasi PNM Sijago atau buka website www.sijago.pnmim.com. Bersama PNM Sijago, kamu akan merasakan investasi cerdas, lebih dari sekedar cuan. So, tunggu apa lagi?

 

Penulis : Enrique

Editor : Supriyanto